Berkepul Pahit Kopi

vapor-smoke

Malam datang lagi tak pernah terlambat, selalu tepat waktu dan aku masih terjebak di dalamnya, kali ini aku dihabisi olehnya tanpa sisa. Dalam batinku yang menggema namanya dan segala tentangnya, tertuah rindu yang bukan inginnya.

Apa aku salah? Apa rindu ini harus kusimpan hingga tak sanggup aku meronta dalam keheningan? Apa aku juga harus menapakkan sunyiku di pelataran kegerlapan?

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

Secangkir kepahitan dan kepulan asap menemaniku untuk melalui dinginnya berkenang dirinya. Sudah seberapa malam mereka berdua menjagaku dari hujaman akan kehilangan peluknya, yang sebenarnya ingin kuerat rekat dan tak kubiarkan kekanakan kami meretas lepas lagi.

Aku bersyukur pada Tuhan yang telah memberiku kepedihan, yang memang harus aku terima agar aku bisa beringat akan kasih-Nya dan kasihnya. Tuhan tahu persis akan semua harapku tentang dirinya, dan Tuhan tahu persis apa yang menjadi terbaik untukku.

Kuujar pada sang kirana, tak sanggup kutinggal parasnya dalam relung batin gelapku. Tetap kan kusimpan rapih dalam tatanan sanubariku. Agar aku tetap bisa bersenyum dengan bayangnya, ketika sang pagi menampak dari cakrawala.

Bila kelak dia bersanding dengan diriku, dalam tubuh dan rupa yang berbeda. Kuharap bahagia kan menjaga setiap detik keutuhannya, menyertai semangat langkahnya, dalam menjalani harian Sang Kuasa.

Advertisements

About arif rahman

Duniaku tak seluas duniamu, sempit dan terbatas kata-kata
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s